home Columns PUISI RITMA POLITIK

PUISI RITMA POLITIK

Dua tahun lepas, saya postkan sebuah puisi dari seseorang bernama Sharimi di FB page ni … dengan Izin Allah akhirnya saya berjumpa dengan beliau sama-sama dalam satu program.

Maha suci Allah
yang menyatukan saya dengan orang-orang yang mempunyai pemikiran, frekuensi getaran hati dan perjuangan yang sama.

Tahniah Sharimi … adik saya yang juga sekarang rakan sekelas saya. Saya repost kembali puisi tersebut disini.

Puisi Ritma Politik
(Khas buat Pemimpin)

Rumah kayu yang kaku itu,
Pasaknya rukun bumi,
Tiang terpacak, mengatur langit,
Beralas tikar, Hikayat Bonda kami,
Dijunjung kasih, memayungi peribumi,
Kerisnya terhunus, suci darah sang Mahsuri…

Biar putih tulang,
Mata jangan sekali,
Darjat dijulang nan tinggi,
Keringat diperah titis tangisi,
Dihujah tak patah, dimarah tak latah,
Buka kitab terang,
guna mazhab, menyuluh karang…

Sungai keramat ini,
Mohon tak dicemari,
Jika ikannya mati, rezeki kan pergi,
Liar fauna, tunduklah flora,
Dalam genggaman, hak yang berhak,
Diperintah berdiri, disuruh tak lari,
Kirimu ajaib, kananmu ghaib,
Bahulah saksi, hakiki nan abadi…

Siangnya gah seorang Pemerintah,
Jalannya berduri, terpijak dek kaki,
Masa semalam tidurnya tak lena,
Esok mula merangka-rangka,
Bagai hidup seribu tahun cari bekal, Dicaci takkan maki, diludah tetap cekal…

Hening malamnya,
Dahinya sujud sejadah sepi,
Mengadu, merintih sedih,
Tak tahan rasai pedih,
Bagai esok jasad dan roh tak sehaluan,
Sang Khalifah dambaan insan,
Ritma politiknya berlagu seni,
Halus dalam melodi,
Liriknya antara Neraka dan Syurgawi…

Wahai generasi bijaksana dan sini,
Jangan sopanmu tak beradab,
Santunmu kurangnya diajar,
Mahligai mewah kitalah hulubalang,
Sangkalmu, jangan menghina,
Dangkalmu, jangan dimungkiri…

Siapa sambung warisan Pertiwi?
Kalau kita anak tiri,
Biar tak menang sorak,
Pondok buruk ini, utuh kukuh di jari,
Tiada salah menegur,
Asal kembali menyapa,
Tidak mengapa membentuk,
Biar wasiat pusaka terjaga…

Sumbangnya lagu politik,
Tak terbuka bila dikritik,
Tak berlapang bila dijentik,
Mencari jalan ke penjara,
Bukan bantu lurus ke Syurga,
Mentua buang menantu,
Anak membunuh si Ibu,
Sahabat makin meluat,
Akhirnya jauh tersesat,
Siapa penulis lagu kotor,
Habis semuanya tersungkur,
Maju tanpa peluru,
Mundur masih berdengkur..

Melayu tak melupa, Melayu tak layu,
Tiba masa kita bersatu,
Agama Muhammad diutama,
Yang tua Idea klasik,
Menyatu akal si muda akedemik,
Lawan kami bukan membenci,
Bantah pula tak telingkah,
Mohon Raja lihat rakyat jelata,
Hanya yang adil pandang semua,
Yang kejam, binasalah dikecam…

Hamba orang biasa,
Mampu menulis di kertas kosong,
Berlakon di pentas terpesong,
Yang baik kami sokong,
Jika ianya batil,
Mohon ubah dari kerongkong,
Naik muntah dikaca TV,
Cerita lama dan sama,
Tak bergaduh, mungkin selingkuh,
Laman sosial, fitnah berleluasa,
Tulisan dajal diberi anugerah,
Melayu dan Melayu bertelagah,
Sian pada anak, adik dan kakak,
Tagih kasih semua pihak,
Rakyat bersuara, pemimpin pun bersuara,
Solusinya ritma hampa,
Hampanya seorang hamba…

Jika Pemimpin itu adil,
Bersyukurlah…
Tapi bila pemimpin itu zalim,
Bersabarlah….
Berdoalah,
Itu senjata kita,
Raja mulia, rakyat sejahtera,
Ritma politik tambah cantik,
Untung pada kita, tak rugi pada negara,
Pena ini tak sebelah pada siapa,
Selamanya kita saudara seagama,
Cubit peha kiri, menangis peha kanan,
Luka politik ini,
Semuanya terbeban…

Sharimi Shaharudin,
13.04.2015 (10.47 p.m)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The people from Rich Mille informed me that fake richard mille this bezel is actually corrosion-proof, exceptionally inflexible and also very resistant to impacts.